it has to start from here...it has to start from now...
Kamis, 06 Oktober 2011
4 Hal Tak Terduga yang Bisa Ancam Pernikahan
Retaknya pernikahan kini bukan hanya disebabkan orang ketiga atau
masalah finansial. ada banyak hal tak terduga yang ternyata bisa membuat
biduk rumah tangga di ambang perceraian. Apa saja?
Selasa, 04 Oktober 2011
Sejarah Bangsa Yahudi dan Negara Israel
Menurut studi sejarah yang didasarkan penggalian arkeologi dan lembaran-lembaran kitab suci, awal bangsa Yahudi erat hubungannya dengan kisah nabi Ibrahim AS yang ditengarai terjadi kurang lebih 3800 tahun yang lalu atau 1800 tahun SM.
Tafsir Al-Qur'an menunjukkan bahwa Ibrahim (Abraham) AS, diperkirakan tinggal di daerah Palestina yang dikenal saat ini sebagai Al-Khalil (Hebron), tinggal di sana bersama Nabi Luth (Lot) (QS, 21:69-71). Putra nabi Ibrahim adalah nabi Ismail dan nabi Ishak kemudian putra nabi Ishak adalah nabi Jakub. 12 putra nabi Yakub ini yang kemudian dikenal sebagai 12 suku Israel.
Putra bungsu nabi Yakub AS adalah nabi Yusuf AS, yang dikenal dari sejarah, setelah ditinggalkan di padang pasir oleh kakak-kakaknya, berhasil menjadi kepala bendahara di Mesir. Karena itu ayahnya, nabi Yakub, serta kakak-kakaknya menyusul nabi Yusuf AS ke Mesir dan hidup damai di sana sampai suatu hari Firaun yang berkuasa memperbudak keturunan mereka yang dikenal dengan bani Israel.
Karena kekejaman Firaun yang tak terkira terhadap bani Israel, Allah SWT telah mengirim nabi Musa (Moses) AS masa itu, dan memerintahkannya untuk membawa bani Israel keluar dari Mesir. Musa AS dan kaumnya meninggalkan Mesir, dengan pertolongan mukjizat Allah, sekitar tahun 1250 SM. Mereka tinggal di Semenanjung Sinai dan timur Kanaan. Dalam Al-Qur'an, Musa memerintahkan Bani Israel untuk memasuki Kanaan, (Qur'an, 5:21).
Setelah Musa AS, bangsa Israel tetap berdiam di Kanaan (Palestina). Menurut ahli sejarah, Daud (David) menjadi raja Israel dan membangun sebuah kerajaan berpengaruh. Selama pemerintahan putranya Sulaiman (Solomon), batas-batas Israel diperluas dari Sungai Nil di Selatan hingga sungai Eufrat di negara Siria sekarang di utara.
Ini adalah sebuah masa gemilang bagi kerajaan Israel dalam banyak bidang, terutama arsitektur. Di Yerusalem, Sulaiman membangun sebuah istana dan biara yang luar biasa. Setelah wafatnya, Allah mengutus banyak lagi nabi kepada Bani Israel meskipun dalam banyak hal mereka tidak mendengarkan mereka dan mengkhianati Allah.
Setelah
kematin Sulaiman, kerajaan yahudi terbelah di utara Israel dengan
ibukota Samarria dan Di Selatan Juda dengan ibukota Yerrusalem. Dengan
berlalunya waktu Suku yahudi jatuh di bawah Assyurriea dan Babilon atau
pergi ke Mesir sebagai pelarian. Ketika raja Perrsia Kyros 539 SM
mengizinkan orang Yahudi kembali dari pelarian mereka, banyak orang
Yahudi yang tidak kembali, di sinilah mulainya Diaspora.
63
SM Juda dan Israel jatuh ke tangan ornag Romawi dan tahun 70 berhasil
menghancurkan pemberontakan Yerusalem dan menghancurkan biara dan Juda.
Awal terbentuknya Israel
Setelah
itu kehidupan orang Yahudi hanya ada dalam pelarian dan pengejaran,
baru di kekalifahan Usman, orang Yahudi dapat merasakan kehidupan yang
damai dengan membayar pajak perlindungan. Akhir abad ke 19, ditunjang
oleh Jewish Colonization Assocation
Baron Hirsch, Yahudi dari Eropa Timur berreimigrasi ke Argentina dan
membentuk Kolonialisme pertanian, untuk kembali ke Palestina. Ini
dimulai tahun 1881.
1896
Theodor Herzl kelahiran Budapest membuat Negara Yahudi. Tujuannya untuk
membuat negara untuk orang Yahudi di Palestina, didukung oleh uang
hasil sumbangan dari seluruh orang Yahudi di dunia. Herzl ini juga
dikenal pendiri zionisme, yang juga tidak disetujui oleh orang Yahudinya sendiri.
1914 Di Palestina hidup 1200 orang Yahudi. Setelah
kekalahan kekalifahan Usman di perang dunia ke-1, Palestina menjadi
bola permainan para penguasa. Para Zionis ada di sisi Inggris dan
Amerika.
1917
Tanggal 2 November mentri luar negri Inggris Lord Balfour
menandatangani Deklarasi Balfour untuk membangun negara yahudi. Sebulan
kemudian masuklah tentara Inggris ke Yerusalem.
1920
Gabungan Negara-negara menyerahkan mandat Palestina ke Inggris.
Akibatnya datanglah 75.000 lagi orang Yahudi ke Palestina. Negara-negara
Arab tidak menyetujui didirikannya negar Yahudi di Palestina.
1922 Transjordania dipisahkan dari daerah mandat. Sebagai perwakilan orang Yahudi dibuatlah Jewish Agency. Di tahun ini hidup kurang lebih 80.000 orang Yahudi di Palestina
1933 Di Jerman dimulailah pengejaran secara sistematis orang Yahudi.
1936 Masyarakat Arab menentang politik masuknya orang Yahudi ke Palestina, tapi orang Yahudi dibantu oleh tentara Inggris.
1937
Sesudah pemerintah Mandat membatasi imigrasi dan pembelian tanah oleh
orang Yahudi, timbullah ketegangan yang dilakukan oleh organisasi bawah
tanah Yahudi terhadap orang Inggris.
1939 Pendidikan sebuah brigade Yahudi untuk memasukkan orang Yahudi ke Palestina
1945
Komisi Inggris Amerika menganjurkan penerimaan 100.000 orang Yahudi di
Palestina, tapi kemudian ditolak oleh Inggris sehingga menyebabkan
kerusuhan di antara Yahudi - Palestina.
1947
UNO menganjurkan pemisahan Palestina dan pembentukan negara Yahudi dan
Arab. Perang antara Yahudi dan Arab menghindarkan dilanjutkannya rencana
itu.
1948
Inggris mengakhiri Mandatnya atas Palestina dan tanggal 14 Mei
meninggalkan Palestina. Tentara Yahudi memasuki Palestina dan mengusir
orang Palestina yang didukung oleh negara-negara Arab. Di hari yang sama
Ben Gurion menyerukan kemerdekaan Israel di kota yang dibentuk mereka,
Tel Aviv, sehingga kemudian menyebabkan perang hari pertama Timur
Tengah.
1949
Setelah perang, Israel diakui sebagai negara oleh UNO. Karena itu
hiduplah ratusan ribu orang Palestina di pengasingan terutama di Gaza. Pemerintah Israel mengumumkan Yerusalem sebagai ibukota. Di Palestina ada sekitar 650.000 orang Yahudi.
Sumber dari :
http://cahayahati.multiply.com/journal/item/192
Sabtu, 24 September 2011
Joko Widodo : "Jangan Sampai Aturan Berubah Karena uang"
Sabtu, 18 Juni 2011 — Jika kita terbiasa dengan
kabar di kota-kota lain PKL ( Pedagang Kaki Lima ) dikejar-kejar dan
menjadi obyek penggusuran Satuan Polisi Pamong Praja, di Solo
sebaliknya. Sebelum direlokasi, para pedagang diajak berdialog. Jokowi
(Joko Widodo) dan Wakil Wali Kota FX Hadi Rudyatmo tak hanya satu-dua
kali berdialog, tetapi sampai puluhan kali bertemu para PKL.
Kata Jokowi (Joko Widodo), tugas pemerintah memberi ruang kepada pedagang kecil untuk maju, bukan menggusur mereka. ”Pemimpin yang baik adalah yang mengikuti keinginan orang yang dipimpinnya,” katanya. Latar belakang sebagai pengusaha membuat cara pandang dia terhadap pedagang berbeda. Ketika menjadi wali kota, salah satu obsesinya adalah mengangkat status PKL menjadi saudagar.
Joko Widodo adalah sosok sederhana dan membela kesederhanaan. Tanpa banyak mengumbar kata, dia memberi teladan. Tanpa banyak retorika, dia melakukan gebrakan. Toh, kesederhanaan itu pula yang membuat dia berhasil memimpin Kota Solo, Jawa Tengah.
Bagi Joko Widodo,kesederhanaan merupakan bagian dari gaya kepemimpinannya. Tiap orang boleh beda, tapi leader dan leadership, menurut dia,merupakan dua hal yang menentukan lemah kuatnya seorang pemimpin daerah,bahkan negara.Berikut petikan wawancara dengan sosok yang akrab disapa Jokowi itu di Jakarta,Rabu, (15/6):
Sebelum menjadi wali kota, sebagai warga Solo,Anda melihat masalah apa yang dihadapi kota ini?
Saya tidak tahu. Tapi,yang saya lihat curve-nya turun. Artinya,saya melihat kota ini secara umum tidak tambah baik, tapi tambah tidak baik. Dan itu terbukti ketika saya masuk (menjadi wali kota).
Bidang apa yang paling terpuruk waktu itu?
Kalau saya,yang kelihatan mata, ya di penataan kota. Kedua,di penataan di birokrasi. PNS kita ini pintar pintar. Lurah, kepala seksi (bergelar) master-master semua. Tapi, kalau leader-nya tidak bisa menggerakkan organisasi, tidak ngerti masalah, manajemen organisasi, ya bagaimana menggerakkan orang? Tidak bisa.
Anda belajar manajemen organisasi dari mana?
Saya tidak pernah belajar. Belajarnya nukang… hahaha !
Begitu tahu banyak permasalahan, pendekatan apa yang digunakan untuk menyelesaikan?
Kesederhanaan dalam apa pun. Artinya,sederhana dalam menerapkan kebijakan. Simple. Jangan yang sederhana dijadikan ruwet. Sekarang kan banyak yang sebenarnya sederhana, tapi dijadikan ruwet. Harusnya kan yang ruwet dijadikan sederhana. Banyak, banyak sekali kalau mau dicarikan contoh.
Salah satu terobosan inovatif dan berhasil yang Anda lakukan adalah menata PKL. Apa kuncinya?
Mindset memang harus berubah dulu. Kita itu kalau sudah bicara investor,selalu bicara triliun, berbicara asing, berbicara yang gede-gede terus. Padahal, itu yang namanya usaha mikro, PKL, warung, juga investor. Tapi, skalanya sangat mikro. Dia itu (PKL,usaha mikro) yang mengangkut banyak tenaga kerja. Sehingga selalu saya katakan, perhatian khusus yang amat sangat dari pemerintah baik pusat maupun daerah, harusnya ke sana.
PKL hampir selalu diidentikkan dengan permasalahan kota yang sangat sulit diatasi. Bagaimana Anda menilainya?
Kalau yang memandang PKL menjadikan kumuh kota, mengotori kota, itu karena tidak diberi ruang dalam sebuah city planning. Coba lihat di semua kota, ruang untuk PKL itu di mana? Kalau hypermarket, supermarket, mal diberi, kenapa mereka tidak? Itulah kekeliruan di perencanaan kota, sehingga mereka bertebaran di trotoar karena tidak diberi ruang. Yang menjadi kewajiban pemerintah di situ.
Anda mengerem masuknya investor berskala besar. Apa tidak mendapat tekanan?
Tekanan politik, ekonomi, banyak. Ada yang misalnya mau membangun mal yang telepon dari Jakarta (pejabat pusat), ya ada. Biasalah. Yang harus dimengerti, fungsi pemerintah itu pengendalian. Jadi jangan di los dong. Kalau free fight (tarung bebas),ya yang kecil pasti kalah. Di Solo itu, kalau kita buka total mungkin lima tahun sudah tambah 12 mal.
Cara mengatasi tekanan itu bagaimana?
Kita lihat makro desain sebuah kota. Kalau kita memang ingin kotanya penuh mal, ya gak apa-apa dipenuhi saja dengan mal. Tapi, kalau di Solo, kita tidak. Makro desain kita tidak menuju ke situ. Kita sudah ada blue print kota.Yang sering bikin kota gak karu-karuan ini kan ada blue print, konsep tata kota, tapi itu tidak diikuti. Bisa ditawar dengan uang, bisa diubah karena tekanan politik. Itu yang bikin masalah.
Artinya,semua pemimpin semestinya mampu mengimplementasikan aturan itu?
Harusnya ada konsistensi terhadap aturan yang telah kita buat. Jangan bisa ditawar. Misalnya, sudah ada gambarnya ini hotel di sebelah barat, kalau hotel mau di sebelah tengah ya harus bilang tidak. Kalau itu sudah bisa ditawar, akan menjadi kacau. Percuma kita membuat perencanaan, konsep plan kota, rencana tata ruang. Tidak ada artinya.
Sebenarnya langkah-langkah Anda ini meniru siapa atau konsepnya dari mana?
Saya 21 tahun malang melintang dari kota ke kota, negara ke negara. Saya melihat, di tempat yang lain itu yang namanya PKL pasti diberi ruang, diberi tempat. Di Solo sendiri kenapa ada ide-ide seperti itu, yang paling penting kita mau berbicara dengan para pelakunya. Kita harus mengerti PKL itu butuh apa, khawatir apa?
Tapi, pandangan atau mindset kita harus positif dulu terhadap mereka. Kita penuhi kebutuhan mereka sepanjang kita mampu. Dan itu kembali di depan tadi,kita memandang dia sebagai investor.
PKL sebagai investor, konkretnya seperti apa?
Kita tiap hari bicara masalah pertumbuhan ekonomi, bursa, padahal itu hanya berapa persen yang berhubungan dengan itu. Sektor riil yang betul-betul riil yaini, PKL, pasar tradisional, usaha rumah tangga,usaha mikro. Puluhan juta orang terangkul di situ,hidup di situ. Bukan dibalik balik, memang itu kewajiban kita. Hanya kemarin cara pandangnya saja yang keliru menurut saya.
Secara umum untuk membangun Solo seperti itu?
Secara umum seperti itu. Saya selalu seperti itu. Mengajak bicara, sehingga lapangan saya ketahui, identifikasi problem saya ketahui, identifikasi masalah saya ketahui, persoalan saya ketahui.
Bisa dijalankan di daerah lain?
Bukan bisa, sangat bisa. Sangat mudah dan sangat bisa. Apanya yang tidak bisa? Di semua daerah sama persoalannya. Sosial ekonomi sama, anggaran APBD juga sama. Birokrasinya kurang lebih sama, SDM-nya sama atau terpaut dikit-dikit. Paling hanya masalah pendekatan budayanya yang berbeda.
Pendapat Anda tentang beda pandangan antara otonomi daerah membuat baik atau membuat buruk?
Saya kira rekrutmen politik dan rekrutmen pemimpin kita yang harus dibenahi.
Lebih jelasnya?
Ada jenjang karier yang jelas. Misalnya, dari wali kota mau naik lagi ke gubernur atau ke menteri itu harus ada tahapan yang jelas. Jangan sampai tahapan ini tidak dipakai, tahu-tahu siapa ini kok tibatiba jadi menteri. Padahal penguasaan di rakyat, mengenai teritori, manajemen kota, atau sebuah wilayah belum dilalui. Itu bahaya.
Di mana pun, di Amerika, mesti tahapannya begitu. Kalau memang sangat istimewa, tidak apa-apa lah meloncat, misalnya dari bupati menjadi presiden atau menteri. Sedangkan rekrutmen politik itu yang harus dibenahi oleh parpol.
Anda melihat titik kelemahan pemimpin dalam mengelola wilayah atau negara di mana?
Tergantung leader dan leadership. Itu dua hal yang berbeda.Mestinya rekrutmen seorang leader itu diawasi, saya tidak tahu lembaganya apa,terserah. Track record mestinya di lihat,keluarganya mestinya juga dilihat. Kalau track record jelas, keluarganya baik,berarti silakan masuk. Masak ngurusi keluarga saja tidak bisa masak mau mimpin kota atau sebuah negara?
Bagaimana dengan faktor keberanian atau kemampuan?
Ketegasan dalam menghadapi sebuah masalah itu juga harus dimiliki pemimpin. Seorang pemimpin yang baik juga harus menyiapkan penerusnya. Jangan dibiarkan ke masyarakat. Harus menyiapkan, hanya jangan memaksa, sehingga jangan sampai kita ini sudah sampai SMP, nanti pemimpin baru muncul dari TK lagi karena tidak senang dengan cara yang kita buat.
Itu yang tidak dimiliki Indonesia sekarang ini?
Termasuk negara ini. Tidak jelas ini. Harusnya, kalau dulu tahapannya pertanian, kedua mestinya pascapanennya, ketiga mungkin industrinya digarap. Itu yang tidak dilakukan.
Masing-masing pemimpin kan ingin punya catatan sejarah. Bagaimana itu?
Oo tidak apa-apa. Begini, ini yang kita buat konsep plan kota dan blue print kota.Itu hanya guidance. Pemimpinnya silakan mau memakai gaya apa silakan, tapi 60% memakai guidance itu. Guidance jangan diobrak-abrik. Peraturan sudah ada,kita siapkan sistem saja.Sistemnya juga belum sempurna. Itu dievaluasi dan diperbarui oleh pemimpin berikutnya
sumber:
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/406696/44/
Kata Jokowi (Joko Widodo), tugas pemerintah memberi ruang kepada pedagang kecil untuk maju, bukan menggusur mereka. ”Pemimpin yang baik adalah yang mengikuti keinginan orang yang dipimpinnya,” katanya. Latar belakang sebagai pengusaha membuat cara pandang dia terhadap pedagang berbeda. Ketika menjadi wali kota, salah satu obsesinya adalah mengangkat status PKL menjadi saudagar.
Joko Widodo adalah sosok sederhana dan membela kesederhanaan. Tanpa banyak mengumbar kata, dia memberi teladan. Tanpa banyak retorika, dia melakukan gebrakan. Toh, kesederhanaan itu pula yang membuat dia berhasil memimpin Kota Solo, Jawa Tengah.
Bagi Joko Widodo,kesederhanaan merupakan bagian dari gaya kepemimpinannya. Tiap orang boleh beda, tapi leader dan leadership, menurut dia,merupakan dua hal yang menentukan lemah kuatnya seorang pemimpin daerah,bahkan negara.Berikut petikan wawancara dengan sosok yang akrab disapa Jokowi itu di Jakarta,Rabu, (15/6):
Sebelum menjadi wali kota, sebagai warga Solo,Anda melihat masalah apa yang dihadapi kota ini?
Saya tidak tahu. Tapi,yang saya lihat curve-nya turun. Artinya,saya melihat kota ini secara umum tidak tambah baik, tapi tambah tidak baik. Dan itu terbukti ketika saya masuk (menjadi wali kota).
Bidang apa yang paling terpuruk waktu itu?
Kalau saya,yang kelihatan mata, ya di penataan kota. Kedua,di penataan di birokrasi. PNS kita ini pintar pintar. Lurah, kepala seksi (bergelar) master-master semua. Tapi, kalau leader-nya tidak bisa menggerakkan organisasi, tidak ngerti masalah, manajemen organisasi, ya bagaimana menggerakkan orang? Tidak bisa.
Anda belajar manajemen organisasi dari mana?
Saya tidak pernah belajar. Belajarnya nukang… hahaha !
Begitu tahu banyak permasalahan, pendekatan apa yang digunakan untuk menyelesaikan?
Kesederhanaan dalam apa pun. Artinya,sederhana dalam menerapkan kebijakan. Simple. Jangan yang sederhana dijadikan ruwet. Sekarang kan banyak yang sebenarnya sederhana, tapi dijadikan ruwet. Harusnya kan yang ruwet dijadikan sederhana. Banyak, banyak sekali kalau mau dicarikan contoh.
Mindset memang harus berubah dulu. Kita itu kalau sudah bicara investor,selalu bicara triliun, berbicara asing, berbicara yang gede-gede terus. Padahal, itu yang namanya usaha mikro, PKL, warung, juga investor. Tapi, skalanya sangat mikro. Dia itu (PKL,usaha mikro) yang mengangkut banyak tenaga kerja. Sehingga selalu saya katakan, perhatian khusus yang amat sangat dari pemerintah baik pusat maupun daerah, harusnya ke sana.
PKL hampir selalu diidentikkan dengan permasalahan kota yang sangat sulit diatasi. Bagaimana Anda menilainya?
Kalau yang memandang PKL menjadikan kumuh kota, mengotori kota, itu karena tidak diberi ruang dalam sebuah city planning. Coba lihat di semua kota, ruang untuk PKL itu di mana? Kalau hypermarket, supermarket, mal diberi, kenapa mereka tidak? Itulah kekeliruan di perencanaan kota, sehingga mereka bertebaran di trotoar karena tidak diberi ruang. Yang menjadi kewajiban pemerintah di situ.
Anda mengerem masuknya investor berskala besar. Apa tidak mendapat tekanan?
Tekanan politik, ekonomi, banyak. Ada yang misalnya mau membangun mal yang telepon dari Jakarta (pejabat pusat), ya ada. Biasalah. Yang harus dimengerti, fungsi pemerintah itu pengendalian. Jadi jangan di los dong. Kalau free fight (tarung bebas),ya yang kecil pasti kalah. Di Solo itu, kalau kita buka total mungkin lima tahun sudah tambah 12 mal.
Cara mengatasi tekanan itu bagaimana?
Kita lihat makro desain sebuah kota. Kalau kita memang ingin kotanya penuh mal, ya gak apa-apa dipenuhi saja dengan mal. Tapi, kalau di Solo, kita tidak. Makro desain kita tidak menuju ke situ. Kita sudah ada blue print kota.Yang sering bikin kota gak karu-karuan ini kan ada blue print, konsep tata kota, tapi itu tidak diikuti. Bisa ditawar dengan uang, bisa diubah karena tekanan politik. Itu yang bikin masalah.
Artinya,semua pemimpin semestinya mampu mengimplementasikan aturan itu?
Harusnya ada konsistensi terhadap aturan yang telah kita buat. Jangan bisa ditawar. Misalnya, sudah ada gambarnya ini hotel di sebelah barat, kalau hotel mau di sebelah tengah ya harus bilang tidak. Kalau itu sudah bisa ditawar, akan menjadi kacau. Percuma kita membuat perencanaan, konsep plan kota, rencana tata ruang. Tidak ada artinya.
Sebenarnya langkah-langkah Anda ini meniru siapa atau konsepnya dari mana?
Saya 21 tahun malang melintang dari kota ke kota, negara ke negara. Saya melihat, di tempat yang lain itu yang namanya PKL pasti diberi ruang, diberi tempat. Di Solo sendiri kenapa ada ide-ide seperti itu, yang paling penting kita mau berbicara dengan para pelakunya. Kita harus mengerti PKL itu butuh apa, khawatir apa?
Tapi, pandangan atau mindset kita harus positif dulu terhadap mereka. Kita penuhi kebutuhan mereka sepanjang kita mampu. Dan itu kembali di depan tadi,kita memandang dia sebagai investor.
PKL sebagai investor, konkretnya seperti apa?
Kita tiap hari bicara masalah pertumbuhan ekonomi, bursa, padahal itu hanya berapa persen yang berhubungan dengan itu. Sektor riil yang betul-betul riil yaini, PKL, pasar tradisional, usaha rumah tangga,usaha mikro. Puluhan juta orang terangkul di situ,hidup di situ. Bukan dibalik balik, memang itu kewajiban kita. Hanya kemarin cara pandangnya saja yang keliru menurut saya.
Secara umum untuk membangun Solo seperti itu?
Secara umum seperti itu. Saya selalu seperti itu. Mengajak bicara, sehingga lapangan saya ketahui, identifikasi problem saya ketahui, identifikasi masalah saya ketahui, persoalan saya ketahui.
Bisa dijalankan di daerah lain?
Bukan bisa, sangat bisa. Sangat mudah dan sangat bisa. Apanya yang tidak bisa? Di semua daerah sama persoalannya. Sosial ekonomi sama, anggaran APBD juga sama. Birokrasinya kurang lebih sama, SDM-nya sama atau terpaut dikit-dikit. Paling hanya masalah pendekatan budayanya yang berbeda.
Pendapat Anda tentang beda pandangan antara otonomi daerah membuat baik atau membuat buruk?
Saya kira rekrutmen politik dan rekrutmen pemimpin kita yang harus dibenahi.
Lebih jelasnya?
Ada jenjang karier yang jelas. Misalnya, dari wali kota mau naik lagi ke gubernur atau ke menteri itu harus ada tahapan yang jelas. Jangan sampai tahapan ini tidak dipakai, tahu-tahu siapa ini kok tibatiba jadi menteri. Padahal penguasaan di rakyat, mengenai teritori, manajemen kota, atau sebuah wilayah belum dilalui. Itu bahaya.
Di mana pun, di Amerika, mesti tahapannya begitu. Kalau memang sangat istimewa, tidak apa-apa lah meloncat, misalnya dari bupati menjadi presiden atau menteri. Sedangkan rekrutmen politik itu yang harus dibenahi oleh parpol.
Anda melihat titik kelemahan pemimpin dalam mengelola wilayah atau negara di mana?
Tergantung leader dan leadership. Itu dua hal yang berbeda.Mestinya rekrutmen seorang leader itu diawasi, saya tidak tahu lembaganya apa,terserah. Track record mestinya di lihat,keluarganya mestinya juga dilihat. Kalau track record jelas, keluarganya baik,berarti silakan masuk. Masak ngurusi keluarga saja tidak bisa masak mau mimpin kota atau sebuah negara?
Bagaimana dengan faktor keberanian atau kemampuan?
Ketegasan dalam menghadapi sebuah masalah itu juga harus dimiliki pemimpin. Seorang pemimpin yang baik juga harus menyiapkan penerusnya. Jangan dibiarkan ke masyarakat. Harus menyiapkan, hanya jangan memaksa, sehingga jangan sampai kita ini sudah sampai SMP, nanti pemimpin baru muncul dari TK lagi karena tidak senang dengan cara yang kita buat.
Itu yang tidak dimiliki Indonesia sekarang ini?
Termasuk negara ini. Tidak jelas ini. Harusnya, kalau dulu tahapannya pertanian, kedua mestinya pascapanennya, ketiga mungkin industrinya digarap. Itu yang tidak dilakukan.
Masing-masing pemimpin kan ingin punya catatan sejarah. Bagaimana itu?
Oo tidak apa-apa. Begini, ini yang kita buat konsep plan kota dan blue print kota.Itu hanya guidance. Pemimpinnya silakan mau memakai gaya apa silakan, tapi 60% memakai guidance itu. Guidance jangan diobrak-abrik. Peraturan sudah ada,kita siapkan sistem saja.Sistemnya juga belum sempurna. Itu dievaluasi dan diperbarui oleh pemimpin berikutnya
sumber:
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/406696/44/
Langganan:
Postingan (Atom)